Laman

3 Maret 2016

Globalisasi ataukah Penjajahan Era Baru?

Kalian tau, Globalisasi itu apa? Kita pasti sudah tidak asing lagi dengan kalimat Globalisasi saat ini. Dan kalian pasti sudah pada tau arti dari Globalisasi, atau jika kalian berselancar, langsung keluar banyak arti dari Globalisasi. Tapiiii, taukah kalian? Sebenarnya Globalisasi itu  adalah Neo Kapitalism dan Neo Kolonialism, sama seperti yang dibawa dahulu oleh para penjajah yang menjajah bumi nusantara kita ini. Sekarang begitu booming sekali arti dari Globalisasi, dan seakan-akan jika kita tidak mengikuti arus, maka kita menjadi orang yang terbelakang. Siapa bilang? Coba kalo kita tau arti sebenarnya dari Globalisasi, pasti setiap diri kita tidak mau dengan adanya Globalisasi, karena apa? ya itu, adanya Kapitalisme dan Koloniaisme model baru. 
Coba kalian bayangkan, misal kalian punya rumah nih, kalian tinggal di rumah itu dengan nyaman, trus rumah itu ada kebunnya, disana kita bisa menanam hasil tanaman untuk keberlangsungan hidup kita, trus tiba-tiba ada orang dateng ke rumah kita, eehh ternyata di rumah kita dia malah jadi tuan rumahnya, trus dia bisa kelola kebun kita dan menikmati hasil kebun kita, sedangkan kita yang punya rumah itu tidak bisa leluasa menikmati hasil kebun. Naahh itulah gambaran sederhana dari Globalisasi yang sebenarnya.
Sama seperti yang dilakukan para penjajah jaman dulu, mereka berupaya untuk menguasai kekuasaan daerah kita dan juga mengeruk sumber daya untuk keuntungan yang sebesar-besarnya. Dan pastinya sudah satu paket, klo menguasai kekuasaan suatu daerah, berarti Idiologi pun berusaha untuk dikuasai dengan berbagai cara.
Nggak heran, kenapa jaman dulu, para pejuang kita begitu memperjuangkan wilayahnya dari penjajahan Kapitalisme dan Koloniaisme. Dan ternyata para penjajah paling merasa kewalahan kalo menghadapi perjuangan dan perlawanan dari para ulama dan santri di bumi nusantara ini. Bahkan gerakan politik modern berhasil dibangun oleh para ulama dan santri di bumi nusantara ini dengan nama Syarikat Islam. Para pejuang SI-lah yang begitu gencar memperjuangkan kebebasan dari penjajahan. SI dan upayanya dalam memperjuangkan kemerdekaan indonesia patut diacungi jempol. 
Dan karena mayoritas muslim yang memperjuangkan kemerdekaan, ngga heran kalo tuntutan dalam menegakan Syariat Islam mengemuka dalam persiapan kemerdekaan Indonesia seperti yang tercantum dalam Piagam Jakarta ayat pertama yang berbunyi Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab, namun sayangnya ayat ke-satu ini telah dirubah dan dihilangkan sebagian, padahal itu merupakan hasil persetujuan dari para ulama di bumi nusantara yang berupaya keras dalam mempertahankan indonesia dari penjajahan Kapitalisme dan Kolonialisme.
Lalu bagaimana kalo sekarang? Sebenarnya kita sebagai umat muslim, memikul tanggung jawab sejarah dahulu, yaitu meneruskan tuntutan-tuntutan para ulama dahulu. Pe-Er kita masih banyak. Karena tuntutan-tuntutan tersebut belum terlaksana, akhirnya kita harus menghadapi penjajahan-penjajahan model baru yaitu Globalisasi. Dengan adanya globalisasi, orang bisa menguasai sumber-sumber alam di satu negara, bahkan lebih mudah dari penjajahan jaman dulu. Bayangkan, dahulu Belanda jika mau menguasai suatu daerah harus berperang dulu, menghadapi kepala suku, kepala adat. Setelah berhasil menguasai suatu daerah, maka Belanda membangun benteng, dan fasilitas-fasilitas lain, seperti membuat kebun, menanam rempah-rempah. Biaya yang diperlukan sangatlah besar untuk bisa menguasai suatu daerah dan menggunakan sumber alamnya. Namun sekarang, sangatlah mudah untuk bisa meng-eksplorasi kekayaan sumber alam di bumi nusantara ini. Bahkan jauh lebih sederhana daripada jaman penjajahan dulu. Lalu, apakah kita hanya akan diam saja? Ayoooo,,,,bangunlah!!! Cari ilmu, cari pengetahuan tentang kondisi sekitarmu, jangan sampai dirimu terbawa arus yang akan melenakan dan menghancurkanmu. Jangan pesimis ataupun apatis, percayalah akan janji-Nya. Suatu negri bisa bangkit jika kita berupaya untuk memperjuangkannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar