Laman

30 Januari 2016

Al Qur'an Satu-satunya Ajaran Keyakinan yang dapat Diterima Akal Sehat

Kali ini saya akan membahas tentang rasionalitas Al Qur'an. Kenapa kita berbicara tentang rasionalitas Al Qur'an? Apa sih sebenarnya rasionalitas itu?
Arti rasionalias itu sendiri merupakan pola pikir untuk bertindak sesuai dengan nalar dan logika manusia.
Lalu seperti apa sih untuk bisa tau se-rasionalitas apa Al Quran itu? Dan sebenar apa Al Qur'an? Lalu bagaimana kita bisa mengetahui sebuah 'kebenaran' melalui ke-rasionalitas-an Al Qur'an? Dan kebenaran yang bagaimanakah yang disebut 'Benar'?

Ok, kita coba bahas saja ya. 'Benar' tergantung dari sisi mananya, maksudnya tergantung kita mengkajinya dari segi apa. Jika kita mengkaji nya secara subjektif, emosional, atau berdasarkan hati maka hasilnya adalah relatif atau semu. Mengapa bisa disebut semu? Contoh : kebenaran menurut kepercayaan masing-masing adalah 'benar', ngga salah, ya karena menurut kepercayaan masing-masing, maka hasilnya juga relatif atau semu. Tapi jika kita kaji secara objektif, rasional, atau berdasarkan otak, tidak mungkin semua agama 'benar', pasti ada 'kebenaran mutlak' diantara 'kebenaran semu'.

Mari kita kaji objektifitas Al Qur'an ini dengan mencari jawaban berdasarkan syarat-syarat Tuhan, Jika Tuhan nya benar, maka agamanya benar. 
Coba kita lihat teori-teori berikut ini, dan bagaimana Al Qur'an menjawab teori-teori berikut ini, jika kitab suci Al Qur'an bisa menjawab semua teori-teori berikut, maka kitab suci ini adalah benar-benar suci, dalam artian tidak ada campur tangan dari manusia.
  • Teori Relativitas Einstein
Teori relativitas einstein terbatas oleh 4 dimensi yaitu ruang, waktu, daya, dan guna. Berdasarkan 4 dimensi tersebut, Tuhan tidak terbatas akan ruang, waktu, daya dan guna. Karena yang terbatas akan ruang, disebut alam raya. Alam raya juga terbatas pada dimensi waktu, daya, dan guna. Jika kita menanyakan kapan, dimana, dan bagaimana alam raya itu maka alam raya terbatas pada 4 dimensi tersebut. Jika kita menanyakan kapan, dimana, dan bagaimana Tuhan itu maka jawaban semua itu adalah Tuhan, tidak terbatas oleh 4 dimensi tersebut. Teori ini memberi jawaban bahwa Tuhan mutlak tidak terbatas, dan sudah jelas alam raya terbatas.
Teori Relativitas terjawab di Al Qur'anul karim. Allah jawab di Q.S. berikut :
Al Ikhlas ayat 3 :Lam yalid walam yuulad. Walam yakullahu kufuwan ahad artinya Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakan. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.
Ar Rahman ayat 26-27 : Kulu man 'alaihaa faan. Wayabaa wajhu rbbika dzuljalaali wal ikram artinya semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.
Manusia itu terbatas, alam terbatas, Allah lah yang Mutlak. Allah ada sebelum kata ada itu ada dan Allah tetap ada sekalipun ada itu sudah tidak ada. Adanya Allah karena ketiadaan makhluknya.
Jika kita menanyakan kapan, dimana, dan bagaimana, seperti yang dilakukan fir'aun dahulu, Allah abadikan di Q.S. Al Baqarah 55.
Al Baqarah 55 : waidzqultum yaa muusaa lanu'minalaka hattaa narallaha jahratanfa a khodzatkumushshoo'iqatu wa antum tanzhuruun artinya Dan ingatlah, ketika kamu berkata : "Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang, karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya".
Mata adalah instrumen yang terbatas, sesuatu yang terbatas maka hasilnya terbatas, bahkan mata tidak bisa melihat mata itu sendiri.
  •   Teori Non Otomatik
Di muka bumi ini tidak ada yg otomatis, dibalik ciptaan pasti ada pencipta. Seperti cerita Nabi Ibrahim dalam mencari Tuhan. Allah abadikan di Q.S.  Al An'am ayat 75-79.
Al An'am ayat 75 wa kadzaalika nurii ibrohiima malakuutassamaawaati wal ardhi waliikuuna minal muuqiniin. Artinya Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan Kami yang terdapat di langit dan bumi dan Kami memperlihatkannya agar dia termasuk orang yang yakin. 
Al An'am Ayat 76 Falammaa janna 'alaihillailu roa aa kaukaban qala haadza rabbii falamma afalaqaalalla uhibul aafiliin. Artinya ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang lalu dia berkata : Inilah Tuhanku", tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: "Saya tidak suka kepada yang tenggelam".
Al An'am Ayat 77 Falamma ra al qamara baazighan qala laillam yahdinii rabbi la akuunanna minalqoumidhdholliin. Artinya Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata" "Inilah Tuhanku". Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata:"Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petun juk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat".
Al An'am Ayat 78 Falamma ra asysyamsa baazi ghatan qaalahaadzaarabbii hadzaa akbaru falamma afalat qaala yaaqaumi innii biriiummimmatusyrikuun. Artinya Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata:"Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar". Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata:"Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan".
Al An'am Ayat 79 Innii wajjahtu wajhiyalilladzii fatharassamaawaati wal ardha haniifawwamaa anaa minalmusyrikiin.Artinya Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.
  • Teori the Most
Yaitu teori yang menerangkan 'paling'. Seperti, Terkuasa(paling kuasa), Tertinggi(paling tinggi), Termulia(paling mulia). Siapakah yang paling kuasa, paling mulia, dan paling-paling lainnya? Hanya satu, yaitu satu Tuhan, tidak dua, atau tiga Tuhan. Dan apa pula yang paling itu? Hanya satu pula, dalam artian kebenaran, yang benar hanya satu dan yang lain salah. 
Teori the most ini dijawab di Q.S. Al Ikhlas 1. 
Al Ikhlas Ayat 1 Qul huwallahu ahad artinya Katakanlah :"Dialah Allah, Yang Maha Esa".
Ahad itu berbeda dengan satu, sebab satu itu berjumlah, berbilang, berbagi, sedangkan Allah tidak berjumlah, berbilang, berbagi, berkali. Allah itu Ahad, Esa, Tunggal.
Kemudian satu dalam artian kebenaran, yang benar hanya satu dan yang lain salah, Allah jawab dalam Q.S. Al Fath.
Al Fath 28 Huwalladzi arsala rasuulahu bil hudaa wadiinilhaqqi liyuzhhirahu 'aladdiinikullih wakafaa billahi syahiida artinya Dialah yang mengutus Rosul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi.
Seperti kata prof. leard : Jika kamu berpikir sungguh-sungguh niscaya ilmumu akan memaksamu untuk mencari Tuhan
Man arofa nafsah arofa robba, siapa yg tau dirinya maka akan tau Tuhannya.
  • Teori Super Natur Power
Yaitu teori mengenai kekuatan metafisik yg luar biasa, seperti ruh.
Al Qur'an menjawab teori ini di Q.S. Al Isra 85
Al Isra 85 Wayas aluunaka 'anirruuh qulirruhuu min amri rabbii wamaa uutiitumminal'ilmi illa qaliila Artinya Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammmad) tentang roh. Katakanlah, "Roh itu termasuk urusan Tuhanku, sedangkan kamu diberi pengetahuan hanya sedikit".
Imam Ali pernah ditanya, pengetahuan yang sdikit itu yang seperti apa? Imam Ali menjawab dengan analogi "Ketika engkau celupkan jarimu ke dalam lautan kemudian engkau angkat, air yang menetes di jarimu itulah ilmumu, dan lautan itu adalah ilmu Al Qur'anul karim". Maka, secerdas cerdasnya manusia, ilmunya amatlah sedikit, karena seperti tetesan air yang menetes dalam lautan yang luas dan dalam.

Betapa lemahnya ilmu manusia. Ketika bertanya tentang ruh, Allah menjawab ruh itu urusanKu, kau tidak akan tau bentuk dan warna ruh, sebagaimana engkau tidak tau kapan, dimana, dan bagaimana engkau mati, yg pasti, engkau pasti mati.

Ternyata 4 teori di atas terjawab oleh Al Qur'an, berarti Al Qur'an adalah ajaran keyakinan yg sangat objektif, dapat diterima oleh akal yang sehat. Karena terbukti melalui pengkajian-pengkajian teori objektifitas. Berarti, mereka yang melaksanakan Al Qur'an adalah mereka yang cerdas dan pintar.
Semakin maju zaman, semakin terjawab bukti-bukti kebenaran Al Qur'an. Al Qur'an tak pernah ketinggalan zaman. Jika kita meninggalkan Al Qur'an, berarti kita adalah manusia yg ketinggalan zaman. 

Refference : Tulisan merupakan resume dari ceramah ust. Arifin Ilham

Tidak ada komentar:

Posting Komentar